RBCOM - Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bandung resmi memulai rangkaian persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XIV Jawa Barat tahun 2026.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan melalui Tes Kebugaran Fisi Atlet sebagai alat ukur akurat kesiapan fisik para atlet.

Kegiatan ini digelar di Universitas Pendidikan Indonesia yang berlokasi di PH. H. Mustopa, Bandung pada Selasa, 28 April 2026.

Sekretaris Dispora (Sekdispora) Kota Bandung, Hendy Maulana Yusuf, menegaskan target utama Kota Bandung pada Porprov 2026 adalah merebut gelar Juara Umum.

Target ini sejalan dengan arahan Wali Kota Bandung, M. Farhan yang terus mendorong optimalisasi performa atlet.

"Hari ini Dispora dan KONI sedang melaksanakan kegiatan sport science. Ini adalah alat ukur untuk melihat sejauh mana kesiapan atlet-atlet kita yang akan membela nama Kota Bandung di Porprov 2026 agar kontribusi mereka maksimal," ujar Hendy.

Selain mengejar prestasi, Kota Bandung juga bersiap menjadi tuan rumah pendamping untuk lima cabang olahraga (cabor) dan satu cabor eksibisi, yaitu, Softball, Baseball, Tenis, Soft Tennis, Woodball dan ALTI (Asosiasi Lari Trail Indonesia) di Cabor eksibisi.

Hendy menambahkan bahwa hasil dari tes fisik ini akan menjadi bahan laporan penting bagi pemerintah daerah.

Ia juga ingin mewujudkan target yang diusung, demi menjadikan Kota Bandung sebagai tulang punggung Jawa Barat di ajang lebih tinggi.

"Kami menargetkan awal atau akhir Mei ini sudah mendapatkan gambaran jelas mengenai tim inti. Ini evaluasi awal, jika dalam 6-7 bulan ke depan ada atlet unggulan yang belum mantap, masih ada waktu untuk dipersiapkan lebih matang demi mendulang emas sebanyak-banyaknya," tambahnya.

Senada dengan Sekdispora, Ketua Umum KONI Kota Bandung, Nuryadi, menjelaskan bahwa tes fisik ini diikuti oleh 1.181 atlet yang terdiri dari kategori Tunjangan Prestasi (Tupres) dan Latihan Cabang Khusus (Latcabkhus).

"Kami ingin memastikan apakah selama dua tahun menerima tunjangan, mereka benar-benar berlatih di internal cabor masing-masing. Hasil tes fisik ini akan menunjukkan posisi kemampuan mereka: apakah kurang, sedang, atau maksimal," jelas Nuryadi.

Nuryadi menekankan pentingnya sistem promosi dan degradasi. Atlet yang kondisi fisiknya menurun atau tidak siap, meskipun berstatus atlet berprestasi, posisinya dapat digeser.

"Ini menyangkut kebijakan bantuan pemerintah yang dititipkan melalui KONI agar penggunaannya efektif dan efisien," tegasnya.

Dari total 1.898 atlet Kota Bandung, KONI akan melakukan verifikasi ketat terhadap sisa 700-an atlet yang belum dites.

Berkaca pada pengalaman Porprov sebelumnya di mana terdapat 375 atlet yang tidak berhasil meraih medali, KONI kini lebih selektif.

"Kita harus efisien. Tidak akan mengirimkan atlet yang tidak berpeluang meraih medali. Prinsipnya, anggaran yang ada diprioritaskan bagi calon peraih medali agar hasilnya maksimal," kata Nuryadi.

Lebih jauh, Nuryadi menyatakan bahwa keberhasilan Kota Bandung bukan hanya untuk kepentingan kota semata, melainkan untuk mendukung Jawa Barat di kancah nasional (PON).

Kota Bandung menargetkan kontribusi minimal 21,1% atlet untuk memperkuat kontingen Jawa Barat.

"Apalah artinya prestasi di tingkat kota jika tidak berlanjut ke Jabar. Kami harus 'ngarojong' Pemerintah Jawa Barat agar atlet-atlet kita menjadi kekuatan inti tim Jabar di masa depan," pungkasnya.***