RBCOM - Spanduk bertuliskan Shut Up KDM yang dibentangkan bobotoh di tribune selatan Stadion GBLA saat Persib hadapi Arema FC menjadi perbincangan hangat publik.

Spanduk tersebut dianggap sebagai bentuk protes bobotoh kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi usai mengunggah informasi adanya bonus yang dikucurkan oleh Maruarar Sirait ke Persib.

Sebagian pihak menganggap sikap KDM yang mengunggah informasi bonus dari Ara Sirait tidak elok. Apalagi, narasi yang disampaikan juga menonjolkan sosok Ara Sirait sebagai Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang menimbulkan persepsi negatif di tengah publik.

Padahal Ara Sirait selama ini, memiliki kedekatan emosional dengan Persib karena sejak saat dirinya kuliah di Bandung, mengaku jatuh hati hingga jadi bobotoh.

Baca Juga : Eliano Reijnders Cedera, Bojan Hodak Ungkap Peluangnya Dimainkan saat Persib Hadapi Bhayangkara FC

Sekadar diketahui, Ara Sirait pun sempat mendeklarasikan langsung akan menjadi investor Persib dan siap mengucurkan dana hingga Rp100 miliar.

Itu disampaikannya saat prosesi penyerahan trofi juara Liga 1 musim 2024/25, kepada Persib di Stadion GBLA.

Karenanya, pemberian bonus dari Ara Sirait kepada Persib oleh sebagian pihak dianggap wajar jika konteksnya sebagai investor atau salah satu pemilik Persib.

Meski begitu, sampai sekarang manajemen Persib belum pernah mengonfirmasi posisi atau status Ara Sirait di klub.

Baca Juga : Panas! Persib, Borneo FC dan Persija di Jalur Juara, Begini Kata Marc Klok

Sementara itu, menanggapi polemik seputar pernyataan KDM dan spanduk yang dibentangkan bobotoh, Sekretaris Viking Persib Club (VPC), Arland Siddha buka suara. Sosok yang juga dikenal sebagai dosen itu mengatakan, spanduk dari bobotoh merupakan bentuk keresahan.

"Saya pikir ada pemahaman di tengah-tengah bobotoh, kehadiran sosok dalam tanda kutip adalah elite politik atau kepala daerah yang pemahaman di masyarakat melihat bahwa ada kepentingan-kepentingan, saya tidak tahu kepentingan apa yang mungkin untuk elektabilitas," kata Arland Siddha.

"Pertanyaannya adalah bagaimana dengan politisi yang memang menyukai Persib? Memang dari awal dia sudah menyukai Persib, tapi tidak melibatkan Persib sebagai alat politik, walaupun tidak secara eksplisit."

"KDM dianggap terlampau masuk ke dalam ranah Persib misalnya dengan meng-upload di sosial media terkait pemberian bonus dari Ara Rp1 miliar," jelasnya.****