Budi Dalton dan Zastrouw Al Ngatawi, bersama ulama KH. Choirul Anam MZD dan KH. Deni Ahmad Haidari. (Ely Kurniawati)
RBCOM - Program Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026 resmi bergulir dengan memilih Pondok Pesantren Darussalam sebagai titik awal pelaksanaan pada Sabtu (28/08/2026).
Pembukaan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian silaturahmi yang akan menyasar sejumlah pesantren lain di Jawa Barat.
Pemilihan Darussalam bukan sekadar pertimbangan historis sebagai pesantren tertua di Kabupaten Ciamis.
Lembaga ini dipandang memiliki fondasi pendidikan berbasis tradisi dan kebudayaan yang kokoh, sekaligus konsisten membina ribuan santri dalam penguatan karakter dan nilai sosial.
Sejak sore, lingkungan pesantren telah dipenuhi santri, mahasiswa, pengasuh pondok, hingga tamu undangan dari berbagai daerah.
Agenda dikemas dalam nuansa Ramadan: pembagian takjil, buka puasa bersama, dialog budaya, serta pertunjukan seni religi yang mempertemukan pesan spiritual dengan ekspresi kreatif.
Pesantren sebagai “Inkubator Vaksin Kultural”
Dialog budaya menjadi sorotan utama dengan kehadiran Budi Dalton dan Zastrouw Al Ngatawi, serta tokoh ulama KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA, M.Ag. Acara dipandu Prima Ramadhan dan dimeriahkan Bhattara Sena.
Dalam paparannya, Zastrouw menekankan peran strategis pesantren dalam membangun daya tahan budaya generasi muda.
"Nah, pesantren itu adalah inkubator vaksin kultural dengan sistem nilainya, dengan sistem tradisinya, dengan sistem sosiologisnya. Melalui silaturahmi pesantren ini vaksin-vaksin kultural ini bisa dieksplorasi untuk diinjeksikan kepada anak-anak muda sekarang sehingga dia akan memiliki imunitas kultural yang sangat tinggi," ujarnya.
Sementara itu, Budi Dalton menyoroti pentingnya kesadaran diri sebagai fondasi membangun peradaban berbasis nilai spiritual.
" Salah satu bentuk kesadaran adalah membangun relationship yang lebih baik dengan alam dan lingkungan," tambahnya.
Pesantren yang Adaptif
Bagi pihak pesantren, kolaborasi lintas elemen ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu bergerak dinamis tanpa meninggalkan jati diri.
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, menegaskan bahwa seni dan budaya telah lama menyatu dalam sistem pendidikan di Darussalam.
“Pesantren ini sejak dulu terbuka dengan berbagai kegiatan seni dan budaya. Bagi kami, silaturahmi santri seperti ini bukan sekadar acara, tetapi bagian dari ikhtiar membangun keberkahan umat," ujar KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi atau yang akrab disapa Kang Icep ini.
"Pesantren harus menjadi ruang yang hidup, tempat nilai agama bertemu dengan budaya, agar santri memiliki kepekaan sosial dan kultural di tengah perubahan zaman,” sambungnya.
Ia menyebut kerja sama ini sebagai kelanjutan relasi kebudayaan yang telah terbangun sebelumnya, sekaligus penegasan peran pesantren dalam dinamika masyarakat modern.
Mengapa Dimulai dari Darussalam?
Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin, memaparkan pertimbangan strategis memilih Darussalam sebagai pembuka rangkaian.
“Pesantren Darussalam ini adalah pesantren besar dengan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang kuat. Kami melihat pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan nilai dan karakter. Karena itu, Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan kami mulai dari sini, agar silaturahmi ini benar-benar menyentuh akar komunitas santri,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Silatusantren bukan seremoni tahunan, melainkan ruang kolaborasi yang memadukan edukasi, kepedulian sosial, dan hiburan positif. Setelah Ciamis, agenda akan berlanjut ke Pondok Pesantren Al Hikamussalafiyah Cipulus (5 Maret 2026) dan Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur (7 Maret 2026).
Suara Santri
Bagi santri Darussalam, kegiatan ini memiliki nilai historis dan emosional. Seorang santri yang telah sekitar tujuh tahun belajar di Pesantren Darussalam Ciamis sekaligus mahasiswa di Universitas Islam Darussalam menyampaikan alasannya memilih pesantren tersebut.
“Saya sudah sekitar tujuh tahun di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, sekaligus mahasiswa di Universitas Islam Darussalam. Saya memilih Darussalam karena punya ciri khas sendiri dan merupakan pondok pesantren tertua di Kabupaten Ciamis,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa alumni Darussalam telah berkiprah luas hingga tingkat internasional.
Santri putri Kayla Azka Nadhifah pun menyambut antusias kegiatan ini.
“Coklat Kita ke sini itu bukan yang pertama kali. Sudah pernah sebelumnya, dan menurut saya acaranya selalu menarik,” katanya.
Menurut Kayla, pendekatan dakwah di Darussalam juga dikemas melalui seni musik religi.
“Di sini dakwahnya juga melalui musik-musik religi. Di dalam lagu-lagunya ada makna-makna yang disampaikan,” ujarnya.
Acara turut dihadiri Sekretaris Daerah Ciamis Andang Firman Triyadi, Ketua DPRD Ciamis Nanang Permana, serta perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama lintas agama.
Silatusantren Ramadan 2026 pun kembali menegaskan posisi pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi sebagai simpul penguatan nilai, budaya, dan kolaborasi lintas sektor dalam semangat Ramadan yang inklusif.***